You Are Reading

0

Streptococcus Agalactiae

Syaha Thursday, November 29, 2012

Anggota Kelompok:
1. Syahaffath Assegaf  (100533402620)
2. Wahyu Madya Pratama (100533402638)
3. Rr. Henning G. A. (10053342611)


Morfologi
Istilah  Streptocccus  pertama-tama  digunakan  oleh  Billroth  (1874)  untuk menggambarkan bentuk coccus berbentuk rantai pada luka yang terinfeksi.

Streptococcus adalah sel yang bulat atau sferis, tersusun berpasangan atau dalam bentuk rantai, merupakan bakteri Gram positif. Streptococcus adalah golongan bakteri yang heterogen. Semua spesiesnya merupakan bakteri non motil, non-sporing dan menunjukkan hasil negative untuk tes katalase, dengan syarat nutrisi kompleks. Semuanya anaerob fakultatif, kebanyakan berkembang di udara tetapi beberapa membutuhkan CO2 untuk berkembang. Semua spesies pada Streptococcus tidak dapat mereduksi nitrat. Streptococcus memfermentasi glukosa dengan produk utama adalah asam laktat, tidak pernah berupa gas. Banyak spesies merupakan anggota dari mikroflora normal pada membran mukosa pada manusia ataupun hewan, dan beberapa bersifat patogenik.

Streptococcus digolongkan berdasarkan kombinasi sifatnya, antara lain sifat pertumbuhan koloni, pola hemolisis pada agar darah (hemolisis a, hemolisis b atau tanpa hemolisis), susunan antigen pada zat dinding sel yang spesifik untuk golongan tertentu dan reaksi-reaksi biokimia.


Streptococcus agalactiae

Streptococcus agalactiae termasuk dalam genus Streptococcus golongan B. Bakteri ini merupakan bakteri Gram positif. Streptococcus agalactiae merupakan sebagian dari flora normal pada vagina dan mulut wanita pada 5-25 %. Bakteri ini secara khas merupakan b hemolitik dan membentuk daerah hemolisis yang hanya sedikit lebih besar dari koloni (bergaris tengah 1-2 mm). Streptococcus golongan B menghidrolisis natrium hipurat dan memberi respons positif pada tes CAMP (Christie, Atkins, Munch-Peterson), peka terhadap basitrasin.


Klasifikasi

Scientific classification
Kingdom
Bacteria
Phylum
Firmicutes
Class
Bacilli
Ordo
Lactobacillales
Family
Streptococcaceae
Genus
Streptococcus
Spesies
S. Agalactiae

Binominal Name
Streptococcus Agalactiae
Lehmann and Neumann, 1896
Dasar Patogenitas
Streptococcus agalactiae mempunyai dasar-dasar patogenitas antara lain :
-    Mempunyai simpai sebagai komponen virulensi utama
-    Antibodi antisimpai bersifat protektif jika dibantu oleh sel-sel fagosit yang kompeten dan komplemen

Streptococcus  agalactiae  mampu  bertahan  pada  inang  dalam  temperatur tinggi, tergantung dari kemampuannya untuk melawan fagositosis.

Isolat  dari  Streptococcus  agalactiae  memproduksi  kapsul  polisakarida. Kapsul polisakarida tersebut tersusun atas galaktosa dan glukosa, berkombinasi dengan 2-acetamido-2-deoxyglucose, N-acetylglucosamine dan pada ujungnya terdapat asam sialik, yang memberikan muatan negatif.

Kapsul  polisakarida  tersebut  merupakan  faktor  virulensi  yang  penting. Kapsul-kapsul tersebut menghalangi fagositosis dan sebagai komplemen saat tidak ada antibodi. Hasil selanjutnya dihilangkan bersama dengan pengeluaran residu asam sialik, dan kekurangan serum antibodi untuk melengkapi antigen tidaklah opsonik. Meskipun infeksi/penyerangan bisa saja dihubungkan dengan semua serotype, namun golongan dengan kapsul serotype III mendominasi isolat dari infeksi neonatal.

Penyakit yang Ditimbulkan dan Gejalanya
Streptococcus agalactiae  merupakan penyebab penting infeksi pascasalin dan infeksi neonatal. Kira-kira 5-30%. Infeksi pascasalin yang disebabkan oleh bakteri ini adalah endometritis. Sedangkan infeksi neonatal berupa pneumonia, sepsis dan meningitis neonatal. Selain itu bakteri Streptococcus agalactiae juga menyebabkan penyakit nosokomial dan mastitis subklinis pada hewan ternak.

a.  Sepsis neonatus
Streptococcus   agalactiae   menyebabkan   sepsis   neonatus   dengan   2 perwujudan, yaitu :
1.  Timbul segera (dari lahir sampai 2 hari)
- Bayi yang baru lahir sudah mengandung kuman, tetapi hanya 1/100 di antaranya yang menjadi sakit
- Infeksi berkaitan dengan komplikasi obsterik, kelahiran prematur atau ”respiratory distress”
- Angka kematian lebih 50%
2.  Timbul kemudian (7 hari sampai 4 bulan)
-    Ditandai dengan meningitis
-    Sering berakibat kerusakan saraf yang menetap
-    Terutama disebabkan oleh tipe III
-    Angka kematian 15%–20%

b.  Meningitis
Meningitis tergolong penyakit serius dan bisa mengakibatkan kematian. Penderita meningitis yang bertahan hidup akan menderita kerusakan otak sehingga lumpuh, tuli, epilepsi, retardasi mental. Penelitian menunjukkan bahwa 20-30% pasien meninggal akibat penyakit tersebut, hanya dalam jangka waktu 48 jam. Penyakit meningitis telah membunuh jutaan balita di seluruh dunia. Data WHO  menunjukkan  bahwa  dari  sekitar  1,8  juta  kematian  anak  balita  di seluruh dunia setiap tahun, lebih dari 700.000 kematian anak terjadi di negara kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat. Meningitis yg disebabkan oleh bakteri berakibat lebih fatal dibandingkan meningitis penyebab lain karena mekanisme kerusakan dan gangguan otak yang disebabkan oleh bakteri maupun produk bakteri lebih berat. Masa inkubasi (waktu yang diperlukan untuk menimbulkan gejala penyakit) kuman tersebut sangat pendek, yaitu sekitar 24 jam.
 Gejala Meningitis :
o Pada bayi :
- Demam
- Kejang pada tengkuk
- Rewel/gelisah
- Susah makan
- Menangis terus-menerus
- Lemah
- Intensitas interaksi berkurang
- Ubun-ubun membenjol
- Muncul bercak pada kulit
- Tangisan lebih keras dan nadanya tinggi
o Pada anak :
- Demam
- Pilek
- Kejang pada tengkuk
- Sakit kepala
- Mual, muntah
- Bingung/disorientasi
- Serangan mendadak
- Tidak suka cahaya terang (fotofobia)
- Ruam di sekujur tubuh

S
etelah itu biasanya penderita merasa sangat lelah, leher terasa pegal dan kaku, gangguan kesadaran serta penglihatan menjadi kurang jelas.



c.  Mastitis Subklinis pada sapi perah
Mastitis adalah penyakit radang ambing yang merupakan radang infeksi. Biasanya penyakit ini berlangsung secara akut, sub akut maupun kronis.

Mastitis  ditandai  dengan  peningkatan  jumlah  sel  di  dalam  air  susu, perubahan  fisik  maupun  susunan  air  susu  dan  disertai  atau  tanpa disertai perubahan patologis atau kelenjarnya sendiri.

Di  Indonesia,  kasus  mastitis  masih  banyak  terjadi,  terutama  pada peternakan kecil yang kurang memperhatikan kondisi kandang maupun tingkat kebersihannya.



Penularan, Penanganan Serta Pencegahan
1.  Meningitis
Angka kematian terbanyak pada bayi dan orang lanjut usia. Pasien yang terlanjur koma ketika dibawa ke rumah sakit, sulit untuk bisa bertahan hidup. Infeksi lebih sering terjadi pada anak dibanding orang dewasa karena tubuh anak belum bisa memproduksi antibodi yang dapat melawan bakteri tersebut.

Komplikasi penyakit tersebut akan timbul secara perlahan dan semakin parah setelah beberapa bulan. Penularan penyakit melalui percikan ludah saat bersin, batuk, atau berbicara, dari penderita kepada orang sehat.

Seseorang  bisa  diduga  terserang  meningitis  jika  mempunyai  riwayat pneumonia atau infeksi telinga. Dalam beberapa kasus, pengambilan sampel cairan  otak  diperlukan  untuk  mendiagnosa  meningitis.  Pada  orang  sehat, cairan otak tampak bening. Sementara pada penderita meningitis, warna cairan terlihat  keruh  dan  tes  laboratorium  mengindikasikan  banyak  bakteri  dan jumlah sel darah putih yang berlebih.

Kebersihan menjadi kunci utama proses pencegahan terjangkit bakteri penyebab meningitis. Ajarilah anak-anak dan orang-orang sekitar untuk selalu cuci tangan, terutama sebelum makan dan setelah dari kamar mandi. Usahakan pula  untuk  tidak  berbagi  makanan,  minuman  atau   alat  makan,  untuk membantu mencegah penyebaran bakteri.

2.  Mastitis Subklinis

Kemampuan bakteri untuk menempel (adesi) pada sel inang diperantarai oleh  komponen  adesin  bakteri  yang  membantu  perlekatan  bakteri  pada reseptor spesifik dari  sel inang. Kemampuan bakteri untuk menempel dan mengaglutinasi eritrosit dapat dipergunakan sebagai model sederhana untuk mempelajari reaksi antara bakteri dengan sel inang secara in vitro.

Streptococcus agalactiae yang mempunyai hemaglutinin mempunyai kemampuan  menempel pada sel epitel ambing jauh  lebih  tinggi dibanding dengan yang tidak memiliki hemaglutinin. Hemaglutinin diduga merupakan salah satu faktor virulen yang dimiliki bakteri patogen dan bertanggung jawab dalam mekanisme infeksinya. 

Lewat  kemampuan  adesi  ini  Streptococcus  agalactiae  terbebas  dari pengaruh pembasuhan organ-organ sekresi, sehingga terhindar dari efek basuh aliran susu.

Mastitis disebabkan oleh buruknya sanitasi kandang. Oleh karena itu, untuk  pencegahannya  dapat  dilakukan  perbaikan  sanitasi  kandang  atau pembuatan sanitasi kandang yang sesuai aturan.

Secara umum, pencegahan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus agalactiae adalah dengan senantiasa menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu juga dengan membiasakan diri bersih dari kuman, dengan cara mencuci tangan sebelum makan dan sehabis dari kamar mandi, dengan menggunakan sabun.

Pengobatan
Pengobatan terhadap bakteri Streptococcus agalactiae secara umum dapat dilakukan dengan pemberian penisilin G. Pemberian vaksin hanya terbatas, karena respons pada anak-anak sangat kurang terhadap antigen polisakarida.

Untuk mencegah  tertularnya bayi dari ibu  yang membawa Streptococcus golongan B ini dapat digunakan ampisilin intravena intrapartum. Selain itu juga  dapat  digunakan  obat  profilaxis  pada  ibu  dengan  biakan  positif  yang mengalami partus prematurus atau ketuban pecah dini. Agen antibakterial sintetik dari kelas oxazolidinone juga dapat digunakan untuk infeksi yang disebabakan oleh bakteri Streptococcus agalactiae.

Selain itu juga dapat digunakan cefepime, yang merupakan suatu antibiotik injeksi  sefalosporin  generasi  IV  dan  merupakan  suatu  molekul  zwitter  ion.

Modifikasi pada struktur inti cephem untuk menghasilkan cefepime menciptakan suatu antibiotik dengan suatu  spektrum antimikrobia yang seimbang dan  luas, sehingga  bisa  digunakan  untuk  perawatan  infeksi  oleh  bakteri  Gram  positif maupun Gram negatif.

Untuk kasus mastitis pada hewan ternak, penggunaan antibiotik sangatlah tepat, terutama penicillin (Benzyl penicillin G, procain penicillin-G, ampicilin), cephalosporin, erythromycin, neomycin, novobiosin, oksitetrasiklin, dan streptomycin.

Daftar Rujukan
Admin,  2007,  Bagaimana  Pengobatan  Mastitis  yang  Efektif?,  http://www.vet- indo.com/kasus-medis/Bagaimana-Pengobatan-Mastitis-yang-Efektif.html, diakses tanggal 10 Mei 2008
Anonim, http://wikipedia.com, diakses tanggal 13 Mei 2008
Anonim, 2004, Medicastore Apotik Online dan Media Informasi Penyakit, http://www.medicastore.com/med/detail_obat.php?id=&iddtl=&idktg=&idoba t=1000010216&UID=20080513201920202.173.18.99, diakses tanggal 13 Mei
2008
Anonim, 2007, Lebih Jauh Soal Meningitis, http://www.motherandbaby.co.id/portal
Powered by Joomla!, diakses 14 Mei 2008
Anonim, 2008, Waspadai Meningitis, http://parentsindonesia.com, diakses tanggal 13
Mei 2008
Crowley, V. Leonard, 2001, An Introduction to Human Disease Pathology and Pathophysiologi   Correlations,   Fifth   Edition,   107,   Jones   and   Bertlett Publishers International, UK
Dexa Media Jurnal Kedokteran dan Farmasi, No. 2, Vol. 20, April - Juni 2007, 59, The Role of Cefepime: Empirical Treatment in Critical Illness, A Guntur H,
Jawetz, et al., 1995, Mikrobiologi Kedokteran, 218-228, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta
Johnson,  G.,  et  al.,  1994,  Mikrobiologi  dan  Imunologi, 32-35,  Binarupa  Aksara, Jakarta
Leslie, C., et al., 1998, Topley and Wilson’s Microbiology and Microbial Infection : Systematic Bacteriology 9th edition, 633-635, 653, Oxford University Press,
Inc., New York
Nester,  et  al.,  2001,  A  Human  Perspective,  Third  Edition,  668,  McGraw-Hill
Companies, Inc., New York

0 comments:

Post a Comment

 
Copyright 2011 [aerosurudoi]